Categories
ekonomi

Menelusuri Jejak Ekonomi Lewat Koleksi Uang Kuno di Museum Radya Pustaka Solo

SURAKARTA – Sebagai mahasiswa Program Studi Produksi Media Politeknik Indonusa Surakarta, saya, Dafa Nurizqan Hidayat, mengunjungi Museum Radya Pustaka di Jalan Slamet Riyadi, Solo, untuk mengamati bagaimana sejarah ekonomi Indonesia dan dunia tersimpan melalui koleksi uang kuno. Museum yang berdiri sejak 1890 dan dikenal sebagai salah satu museum tertua di Indonesia ini menyimpan berbagai koleksi mata uang, naskah, hingga benda budaya yang menjadi saksi perkembangan ekonomi dari berbagai masa.

Saat memasuki ruang pamer, perhatian saya langsung tertuju pada etalase yang berisi berbagai mata uang dari Indonesia maupun beberapa negara lain. Mulai dari uang gulden, rupiah lama, dolar Amerika Serikat, hingga mata uang dari Singapura dan Malaysia dipamerkan sebagai bagian dari perjalanan sejarah sistem perdagangan dan perekonomian. Koleksi tersebut menunjukkan bahwa nilai uang tidak hanya sebagai alat transaksi, tetapi juga menjadi bukti perkembangan sosial, politik, dan ekonomi suatu negara.

Dalam kunjungan tersebut, seorang pemandu museum menjelaskan bahwa koleksi uang kuno menjadi salah satu koleksi yang paling sering menarik perhatian pengunjung, terutama pelajar dan mahasiswa. “Melalui koleksi mata uang ini, pengunjung dapat melihat bagaimana sistem ekonomi berkembang dari masa ke masa. Setiap lembar uang memiliki cerita tentang zamannya, sehingga museum bukan hanya tempat menyimpan benda bersejarah, tetapi juga menjadi ruang belajar ekonomi yang menyenangkan,” ujarnya.

Sebagai mahasiswa Produksi Media, saya melihat museum bukan sekadar tempat menyimpan benda kuno. Di era digital saat ini, koleksi seperti uang kuno justru memiliki nilai konten yang tinggi. Dengan penyajian visual yang menarik melalui fotografi dan video, sejarah ekonomi dapat dikemas menjadi informasi yang lebih mudah dipahami sekaligus menarik perhatian generasi muda.

Kunjungan ini memberikan pengalaman baru bagi saya bahwa memahami ekonomi tidak selalu harus melalui buku pelajaran. Melalui koleksi uang kuno di Museum Radya Pustaka, saya dapat melihat bagaimana perubahan nilai mata uang mencerminkan perjalanan sejarah suatu bangsa. Bagi generasi muda, museum bukan lagi tempat yang membosankan, melainkan ruang untuk belajar, membuat konten edukatif, dan memahami bahwa sejarah ekonomi tetap relevan di tengah perkembangan zaman.(*nurizqan)

Categories
ekonomi

Dari Viral ke Cuan, Telaga Sarangan Ramai Pengunjung: Omzet Tiket Naik, UMKM ikut Untung

MAGETAN – Telaga Sarangan di Kabupaten Magetan kembali dipadati wisatawan sejak akhir pekan lalu. Ramainya pengunjung dipicu video suasana sunset dan aktivitas naik speedboat yang viral di TikTok dan Instagram tembus jutaan views, sehingga wisatawan dari Solo, Madiun, hingga Surabaya berbondong-bondong datang ke lokasi.

Lonjakan pengunjung berdampak langsung pada pendapatan pengelola. “Sejak viral, omzet dari tiket masuk bisa Rp1 juta lebih per harinya,” ujar petugas loket Telaga Sarangan. Untuk saat ini, tiket masuk Telaga Sarangan masih Rp15.000 per orang dengan jam operasional pukul 07.00 – 17.00 WIB.

Efek viral itu juga dirasakan langsung oleh pelaku UMKM di sekitar kawasan wisata. Usaha penyewaan speedboat menjadi salah satu yang paling kebanjiran peminat dengan tarif  Rp150.000 ribu untuk 1x putaran mengelilingi telaga. Penyewaan kuda tunggang juga penuh sejak pagi hingga sore dan antrian pengunjung terlihat mengular di beberapa titik. Para pedagang kuliner seperti sate kelinci dan sate kambing mengaku dagangannya laris manis dengan omzet naik hampir dua kali lipat dibanding hari biasa. Beberapa lapak souvenir dan minuman dingin juga ikut merasakan dampak positifnya. Untuk mengurai kepadatan, pihak pengelola telah menambah petugas dan memperluas area parkir. Pengunjung diimbau menjaga kebersihan selama berwisata.(*cesya)

Categories
ekonomi

WARUNG MADURA MENJADI PENOPANG Ekonomi Warga

Surakarta-Warung Madura yang berlokasi di Dusun Ngemplak Sutan, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta. Ramai dikunjungi masyarakat setiap hari. Warung yang buka 24 jam ini menjadi salah satu penopang ekonomi keluarga pemilik sekaligus memudahkan warga memenuhi kebutuhan sehari-hari.

     Warung Madura milik mas Dandi Wahyu, berdiri pada tahun 2023 akhir.  Mas Dandi Wahyu selaku pemilik warung madura, membuka warung madura, Karena ingin membantu memenuhi kebutuhan warga sekitar. “saya ingin membantu warga sekitar yang jauh dari supermarket” ucapnya. Juga memenuhi kebutuhan mendadak warga sekitar saat tengah malam yang tempat tinggalnya jauh dari supermarket 24 jam.

     Cara mas Dandi Wahyu untuk menjaga warungnya tetap ramai dan mampu bersaing adalah dengan melengkapi barang yang dibutuhkan oleh semua kalangan, dan dengan melayani konsumen dengan ramah.

     Menurut Mas Dandi Wahyu, omzet warung setiap harinya berkisar Rp2.500.000 hingga Rp4.000.000, tergantung jumlah pembeli dan waktu tertentu seperti akhir pekan atau hari libur.      Ke depan, Mas Dandi Wahyu berharap usahanya dapat terus berkembang dengan menambah variasi produk dan meningkatkan pelayanan kepada pelanggan. Ia juga optimistis prospek Warung Madura masih sangat baik karena kebutuhan masyarakat terhadap warung yang buka selama 24 jam tetap tinggi. Dengan mempertahankan pelayanan yang ramah serta kelengkapan barang, ia berharap warungnya dapat terus menjadi pilihan utama warga sekaligus memberikan kontribusi terhadap perekonomian keluarga dan lingkungan sekitar.(*abriyan)

Categories
budaya ekonomi

Muda dan Berbudaya, Selly Sukses Lestarikan Kain Lurik Beromset Rp15 Juta

KLATEN – Selly, seorang pengusaha muda berusia 25 tahun di Klaten, sukses melestarikan wastra tradisional kain lurik menjadi produk fashion modern yang diminati pasar. Melalui inovasi kreatif pada usaha turun-temurun ini, ia berhasil menjaga kelestarian budaya sekaligus mendapatkan omset hingga Rp15 juta per bulan.

Proses pembuatan lurik ini mengandalkan benang lawe putih produksi pabrik yang diolah sendiri melalui tahap pencucian, pewarnaan, hingga perendaman. Proses pewarnaan menggunakan dua metode, yaitu pewarna sintetis dan pewarna alami dari daun serta kayu, yang mana perbedaan bahan baku ini nantinya memengaruhi variasi harga jual kain. Produk akhir kemudian difokuskan pada busana siap pakai seperti outer dan kemeja kasual guna menjembatani estetika tradisional dengan selera generasi muda.

Selly menjelaskan bahwa keterlibatannya dalam industri kreatif ini merupakan langkah strategis untuk meneruskan estafet bisnis keluarga. Menurutnya, eksistensi wastra Nusantara sangat bergantung pada keberanian generasi muda dalam berinovasi tanpa menghilangkan identitas aslinya. “Alasan saya memilih usaha kain lurik ini karena merupakan usaha turun temurun dan saya yakin usaha ini akan berkembang pesat kedepannya,” ujarnya.

Keunikan usaha ini terletak pada kombinasi penggunaan alat tenun tradisional dengan strategi pemasaran digital yang adaptif. Pola manajemen ini melatih bisnis lokal agar tetap tangguh menghadapi dinamika industri kreatif global melalui pendekatan edukasi sejarah di balik setiap helai kain yang ditawarkan kepada konsumen.

Selly berencana mengoptimalkan aktivitas digitalnya dengan mengaktifkan fitur live streaming secara berkala di platform TikTok dan Instagram. Upaya ini dirancang untuk memperluas jangkauan pasar nasional, berinteraksi langsung dengan pelanggan, sekaligus mengenalkan filosofi kain lurik secara interaktif. Melalui pemanfaatan teknologi media tersebut, usaha kreatif lokal ini diharapkan mampu memperkokoh fundamental bisnisnya secara berkelanjutan.(*laela)

Categories
ekonomi

Manfaatkan Keramaian Nobar Piala Dunia Pedagang Kaki Lima Kebanjiran pembeli

SURAKARTA – Antusiasme warga solo dalam menyaksikan piala dunia dimanfaat dengan cukup bijak oleh pedagang kaki lima. Mereka memanfaatkan momentum nobar piala dunia agar orang-orang yang datang tak hanya menonton bola, tetapi juga dibuat melipir membeli camilan untuk menemani waktu menonton mereka.

 orang-orang masuk mencari tempat, mereka terlebih dahulu mampir ke jajanan-jajanan yang ada di sekitaran balai kota. Ada kopi keliling, penjual es, pempek, telur gulung, dan lain sebagainya. Para penjual sendiri sudah berjaga dari tengah malam agar para pembeli bisa langsung berdatangan membeli dagangan mereka.

Pada Kamis (16/07/2026) sekitar jam satu dini hari, sudah banyak orang yang berdatangan ke balai kota Solo untuk menyaksikan pertandingan semi final antara Inggris dan Argentina. Tak hanya penonton yang ingin menyaksikan keseruan laga dan suasana nobar, tapi juga para penjual yang datang dengan harapan jualan mereka laris pembeli. “Saya tadi datang sekitar jam setengah dua. Begitu datang sudah ada beberapa yang beli. Terus ini pas jeda babak pada banyak yang beli,” ujar Pak Bagus selaku penjual pempek.

Beliau menambahkan kalau biasanya ia berjualan keliling. Hanya saja saat lewat balai kota ia tak sengaja melihat kerumunan orang berdatangan. Ketika ditanya, ternyata ada acara nobar piala dunia. Ia memutuskan melipir dan sudah berjualan di balai kota dari kemarin.

Acara ini sendiri diselenggarakan oleh Pemkot Solo bersama Socrative dan HIPMI Solo yang diadakan di halaman balai kota pada 15-16 Juli. Suasana nobar sendiri begitu antusias sejak laga pertama dimulai pada pukul 02.00 WIB. hingga selesai sekitar jam 4 pagi. Meski sempat ada gangguan pada layar, kondisi tetap terkendali sampai acara selesai.(*ridho)

Categories
ekonomi

Usaha Puding Ikan Milik Warga Solo Bertahan di Tengah Persaingan Kuliner

SURAKARTA – Sejak beberapa tahun terakhir, Bu Nur (51), pelaku usaha mikro asal Solo, konsisten mengembangkan usaha puding ikan yang dirintisnya dari skala kecil. Hingga kini, produk buatannya dipasarkan dengan cara dititipkan di Tenongan Area Solo, sekaligus melayani pesanan yang dapat diambil langsung di rumah maupun diantar kepada pelanggan.

Bu Nur mengatakan bahwa usahanya bermula dari keinginan menghadirkan olahan makanan yang berbeda sekaligus menambah penghasilan keluarga. Dengan mengutamakan kualitas bahan dan cita rasa, puding ikan buatannya perlahan mulai dikenal oleh pelanggan tetap. “Awalnya saya hanya membuat dalam jumlah kecil. Setelah beberapa waktu dan banyak yang suka, akhirnya saya menitipkan produk di Tenongan Area Solo dan juga menerima pesanan dari pelanggan,” ujar Bu Nur saat ditemui.

Selain mengandalkan penjualan di lokasi penitipan, Bu Nur memanfaatkan layanan pesan antar agar produknya dapat menjangkau lebih banyak konsumen. Menurutnya, sistem tersebut memudahkan pelanggan yang tidak sempat datang langsung, terutama saat ada pesanan untuk acara keluarga atau kebutuhan mendadak.

Meski persaingan usaha kuliner semakin ketat dari waktu ke waktu,Bu Nur terus berupaya mempertahankan kualitas produk dan pelayanan. Ia berharap usahanya dapat terus berkembang serta memberikan kontribusi bagi perekonomian keluarga. “Saya berharap usaha ini bisa semakin dikenal masyarakat. Semoga ke depannya penjualan meningkat dan saya bisa terus mempertahankan kualitas produk,” katanya.

Keberadaan usaha mikro seperti yang dijalankan Nur menunjukkan bahwa pelaku UMKM memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian daerah. Dengan inovasi produk dan pelayanan yang baik, usaha kecil memiliki peluang untuk terus tumbuh di tengah persaingan pasar yang terus berubah dari waktu ke waktu.(*araka)

Categories
ekonomi

Jualan Kopi Keliling Jadi Sampingan Anak Muda

Surakarta – Meningkatnya budaya minum kopi di kalangan masyarakat membuka peluang ekonomi baru bagi anak muda di kota Surakarta. Usaha kopi keliling kini menjadi salah satu alternatif pekerjaan sampingan karena membutuhkan modal yang relatif terjangkau,namun mampu menghasilkan keuntungan yang menjajikan.

Fenomena ini terlihat dari semakin banyaknya penjual kopi keliling yang beroperasi di berbagai sudut kota,terutama di kawasan ramai seperti Car Free Day (CFD),pusat perkantoran,kampus,dan jalan protokol. Selain membantu memenuhi kebutuhan konsumen, usaha ini juga berkontribusi terhadap perputaran ekonomi sector usaha mikro,kecil,dan menengah (UMKM).

Salah satu penjual kopi keliling,Mas Aji (25) mengatakan bahwa dirinya sudah mulai menjadi penjual kopi keliling dari tahun 2025. Menurutnya, uasaha tersebut mampu menjadi sumber penghasilan tambahan di tengah meningkatnya permintaan masyarakat terhadap kopi. “Awal mulai jualan kopi keliling dari tahun 2025 sampai sekarang,alhamdulillah tiap hari pasti ada yang beli.untuk hari-hari biasa biasanya bisa jual kopi 5-7 gelas,tapi pas weekday bisa 15-20 gelas” Ungkap Mas Aji saat ditemui ketika jualan kopi keliling dijalan Slamet Riyadi pada (9/7/2026).

Mas aji menambahkan bahwa keuntungan dari berjualan kopi keliling cukup membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia juga melihat peluang usahanya semakin berkembang karena masyarakat kini lebih menyukai minuman yang praktis dengan harga terjangkau dibanding harus selalu datang ke kedai kopi. “Buat harganya sendiri variatif sesuai rasa, mulai dari 8k-15k. cocok buat ngopi ditempat,seperti ditaman,tempat wisata atau mau dirumah”. Ujar salah satu pembeli, Mas Vakkal (25).

Dengan meningkatnya tren konsumsi kopi, usaha kopi keliling diperkirakan masih memiliki prospek yang baik. Selain menjadi sumber pendapatan bagi pelaku usaha, bisnis ini juga membuka lapangan kerja serta mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di Kota Surakarta.

Categories
ekonomi

Smoothie, Minuman Sehat dari Produk FitFrezee

SURAKARTA – Bu Yasmine, seorang pengusaha smoothies berusia 58 tahun, memulai usahanya pada tahun 2024. Meskipun masih tergolong baru, ia telah berhasil membangun usaha yang menyasar masyarakat yang peduli terhadap kesehatan, khususnya para pengunjung kawasan Shelter Manahan. “Saya melihat semakin banyak masyarakat yang sadar akan pentingnya hidup sehat. Oleh karena itu, saya memilih menjual smoothies sebagai pilihan minuman yang segar, bergizi, dan cocok dikonsumsi setelah berolahraga,” ujar Yasmine.

Setiap hari, Yasmine berjualan pada pukul 07.00–09.00 WIB dan 16.00–18.00 WIB, yaitu saat aktivitas olahraga di kawasan Manahan sedang ramai. Dalam satu bulan, usahanya mampu menghasilkan pendapatan sekitar Rp1.000.000. Namun, ia mengaku mengalami penurunan penjualan sekitar 100–200 dibandingkan periode sebelumnya.

Dalam menjalankan usahanya, Yasmine memperhitungkan seluruh biaya produksi, mulai dari biaya bahan baku, peralatan, kemasan (packaging), hingga biaya sewa tempat. Menurutnya, penentuan harga jual dilakukan dengan menghitung Harga Pokok Produksi (HPP), kemudian menambahkan margin keuntungan yang tetap disesuaikan dengan harga pasar agar produknya mampu bersaing.

Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat, Yasmine berharap bisnis smoothiesyang dijalankannya dapat terus berkembang dan menjadi salah satu pilihan minuman sehat bagi masyarakat, khususnya para pengunjung kawasan Manahan.

Categories
ekonomi

Warung Arumi Tetap Jaga Harga Terjangkau di Tengah Naiknya Harga Bahan Baku

Solo, 10 Juli 2026 – Kenaikan harga beberapa bahan baku makanan dan minuman mulai dirasakan oleh pelaku usaha kecil, termasuk Warung Arumi di Kota Solo. Meski harga gula, susu, dan bahan lainnya mengalami kenaikan, Warung Arumi tetap berusaha mempertahankan harga jual agar tetap terjangkau bagi pelanggan.

Kondisi tersebut membuat keuntungan yang diperoleh tidak sebesar biasanya. Namun, Warung Arumi memilih untuk tidak menaikkan harga secara drastis karena ingin menjaga pelanggan tetap datang. Sebagian besar pembeli merupakan warga sekitar, pelajar, dan anak-anak yang setiap hari membeli es maupun camilan di warung tersebut.

Kak Novi, pemilik Warung Arumi, mengatakan bahwa kenaikan harga bahan baku memang berpengaruh terhadap usahanya. Meski begitu, ia tetap berusaha menjaga kualitas makanan dan minuman yang dijual.

“Harga bahan memang sempat naik, tapi saya tetap usahakan harga jualnya jangan naik banyak. Yang penting pelanggan tetap bisa beli dan tetap nyaman jajan di sini,” ujar Kak Novi.

Warung Arumi tetap buka setiap hari dan menyediakan berbagai macam es, makanan ringan, serta camilan. Dengan tetap mempertahankan harga yang terjangkau dan kualitas produk, Warung Arumi berharap pelanggan tetap setia dan usahanya bisa terus berkembang di tengah naiknya harga bahan baku.