Categories
budaya

Tradisi Bancaan 100 Hari di Desa Pengkol Pererat Silaturahmi dan Lestarikan Budaya Jawa

Boyolali, 24 Juli 2026 – Warga Desa Pengkol, Kecamatan Karanggede, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, menggelar tradisi bancaan 100 hari untuk mengenang dan mendoakan almarhum Bapak Rohmat. Kegiatan yang dihadiri sekitar 60 warga beserta keluarga tersebut berlangsung khidmat di kediaman keluarga almarhum sebagai bentuk penghormatan sekaligus pelestarian budaya Jawa. Desa Pengkol merupakan salah satu desa di Kecamatan Karanggede, Kabupaten Boyolali.

Tradisi bancaan 100 hari merupakan adat yang masih dijaga oleh sebagian masyarakat Jawa, khususnya di Boyolali. Acara dilaksanakan tepat pada hari ke-100 setelah seseorang meninggal dunia sebagai bentuk doa bersama untuk almarhum serta ungkapan rasa syukur. Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan tahlil dan doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan makan bersama dalam suasana penuh kekeluargaan.

Hidangan yang disajikan berupa nasi berkat, ingkung ayam, aneka lauk-pauk, jajanan pasar, serta minuman tradisional. Makanan tersebut memiliki makna simbolis sebagai ungkapan syukur, kebersamaan, dan harapan agar keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta keberkahan. Warga duduk melingkar tanpa membedakan status sosial, mencerminkan nilai gotong royong dan kerukunan yang masih kuat di tengah masyarakat.

Bapak Pur, Ketua RT 02, mengatakan bahwa tradisi bancaan 100 hari tidak hanya menjadi sarana mendoakan almarhum, tetapi juga mempererat hubungan antarwarga.

“Tradisi bancaan 100 hari sudah menjadi kebiasaan masyarakat di Desa Pengkol. Selain mendoakan almarhum Bapak Rohmat, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi dan memperkuat kebersamaan antarwarga. Kami berharap tradisi ini tetap dijaga dan dikenalkan kepada generasi muda agar tidak hilang di era modern,” ujar Bapak Pur.

Melalui kegiatan tersebut, keluarga almarhum Bapak Rohmat berharap doa yang dipanjatkan dapat menjadi amal bagi almarhum dan memberikan ketenangan bagi keluarga yang ditinggalkan. Di tengah perkembangan zaman, tradisi bancaan 100 hari di Desa Pengkol, Kecamatan Karanggede, Kabupaten Boyolali diharapkan terus dilestarikan sebagai warisan budaya yang mengandung nilai religius, gotong royong, kebersamaan, dan penghormatan kepada leluhur sehingga tetap hidup di tengah kehidupan masyarakat.(*tian)

Categories
budaya

MELESTARIKAN BAHASA JAWA KROMO SEBAGAI BENTUK PENGHORMATADAN WARISAN BUDAYA

SURAKARTA – Bahasa Jawa kromo merupakan salah satu bentuk bahasa yang menjadi bagian penting dari budaya masyarakat Jawa. Penggunaan bahasa krama tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan dan sopan santun kepada orang yang lebih tua atau orang yang dihormati. Hal tersebut disampaikan oleh Pak Yanto, seorang warga Solo yang saat ini berusia 59 tahun.

Menurut Pak Yanto, bahasa Jawa krama adalah tutur kata yang baik dan sopan yang digunakan ketika berbicara dengan orang yang lebih tua atau orang yang dihormati. “Bahasa Jawa kromo itu adalah tutur kata yang baik kepada orang yang lebih tua atau orang yang dihormati,” ujar Pak Yanto.

Ketika ditanya mengenai tingkatan bahasa Jawa, Pak Yanto menjelaskan bahwa bahasa Jawa memiliki banyak tingkatan dan ragam dalam penggunaannya. Salah satu contohnya adalah penggunaan kata “iki” dan “kuwi” yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Sementara itu, bahasa krama digunakan dalam situasi tertentu untuk menunjukkan rasa hormat kepada lawan bicara.

Menurut Pak Yanto, bahasa kromo umumnya digunakan oleh masyarakat Jawa, terutama ketika berkomunikasi dengan orang yang lebih tua. Penggunaan bahasa Jawa yang halus juga masih banyak ditemukan di lingkungan keraton. Namun, Pak Yanto mengakui bahwa dirinya tidak selalu menggunakan bahasa kromo dalam kehidupan sehari-hari. “Kalau saya sendiri sebenarnya masih kurang menggunakan bahasa Jawa halus. Saya menggunakannya pada saat-saat tertentu saja dan jarang menggunakan bahasa krama,” kata Pak Yanto.

Pak Yanto juga menyampaikan bahwa penggunaan bahasa Jawa kromo sebaiknya mulai dilakukan sejak sekarang dan tidak perlu ditunda-tunda. Menurutnya, bahasa Jawa merupakan bagian dari identitas dan budaya masyarakat Jawa yang perlu dilestarikan. “Secepatnya kita harus menggunakan bahasa Jawa kromo dan jangan ditunda-tunda karena itu memang bahasa kita. Ibaratnya, ketika kita salat, jangan menunda-nunda. Begitu juga dengan penggunaan bahasa Jawa,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa mempelajari bahasa Jawa krama penting dilakukan untuk menjaga tradisi dan budaya Jawa agar tidak hilang. Terlebih, masyarakat di Solo mayoritas merupakan orang Jawa dan masih banyak para sesepuh yang menggunakan bahasa Jawa halus dalam kehidupan sehari-hari. “Kita perlu mempelajari bahasa Jawa krama agar tradisi Jawa tidak hilang dan bahasa Jawa kromo yang halus tetap lestari. Selain itu, kita juga dapat mengikuti kebiasaan orang-orang zaman dahulu atau nenek moyang kita yang menggunakan bahasa Jawa dengan baik dan halus,” ungkap Pak Yanto.

Dalam menggunakan bahasa Jawa krama dengan benar, seseorang harus memperhatikan siapa lawan bicaranya. Ketika bertemu atau berbicara dengan orang yang lebih tua, penggunaan bahasa kromo yang halus diperlukan sebagai bentuk rasa hormat dan sopan santun. Sebagai contoh, seseorang dapat menggunakan ungkapan, “Sugeng enjing, Pak. Budhe tindak pundi?” atau “Budhe tindak pundi, Pak?” Penggunaan bahasa yang halus tersebut menunjukkan sikap menghormati orang yang lebih tua.

Dengan demikian, penggunaan bahasa Jawa krama perlu diterapkan dan dipelajari oleh generasi muda. Hal ini penting agar bahasa Jawa tetap hidup dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Selain sebagai alat komunikasi, bahasa Jawa kromo juga merupakan warisan budaya yang mencerminkan nilai kesopanan, penghormatan, dan tata krama masyarakat Jawa.(*rina)

Categories
budaya

Batik Salah Satu Warisan Budaya Solo

SURAKARTA– Batik adalah seni menghias kain dengan menggunakan teknik perintangan warna memakai malam (lilin batik) yang kemudian melalui proses pewarnaan sehingga menghasilkan motif atau corak tertentu. Batik merupakan salah satu warisan budaya indonesia yang memiliki nilai seni, filosofi, dan makna simbolis yang mencerminkan identitas, tradisi, serta kehidupan masyarakat di berbagai daerah. Batik tidak hanya berfungsi sebagai bahan pakaian, tetapi juga menjadi bagian dari budaya, adat istiadat, dan karya seni yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kampung batik kauman adalah batik khas kota surakarta (solo) yang berasal dari kampung kauman, sebuah kawasan bersejarah yang sejak zaman keraton surakarta dikenal sebagai pusat para pembatik. Batik kauman memiliki ciri khas berupa motif-motif klasik keraton yang sarat akan nilai filosofi, budaya, dan tradisi jawa.

Salah seorang pengunjung, Sri rahwati (21), yang datang dari yogyakarta, mengaku tertarik mengunjungi kampung batik kauman karena ingin melihat langsung proses pembuatan batik. “Saya baru pertama kali datang ke kampung batik kauman. Melihat proses membatik secara langsung membuat saya semakin menghargai batik sebagai warisan budaya indonesia. Ternyata pembuatanya membutuhkan ketelitian dan kesabaran yang tinggi” ujarnya, pada tanggal 23 Juli 2026.

Menurutnya, Kampung batik kauman tidak hanya menawarkan produk batik berkualitas, tetapi juga memberikan pengalaman edukatif mengenai sejarah dan filosofi setiap motif batik. Ia berharap semakin banyak anak muda yang mengenal dan bangga menggunakan batik dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui berbagai kegiatan pelestarian tersebut, Batik kauman solo diharapkan tetap menjadi identitas budaya kota surakarta sekaligus mampu meningkatkan perekonomian para pengrajin. Masyarakat juga diajak untuk terus mendukung dan melestarikan batik dengan mengenakan produk batik asli indonesia sebagai bentuk kecintaan terhadap warisan budaya bangsa.(*dea)

Categories
budaya

Serabi Notosuman jadi pilihan Wisatawan untuk Oleh-oleh khas Solo

SURAKARTA – Di kota solo terdapat beragam jenis kuliner. Serabi Notosuman menjadi salah satu kuliner tradisional yang banyak dipilih wisatawan sebagai oleh-oleh khas Kota Solo. Salah satu penjualnya yaitu Ibu Sutarti (44 tahun)  yang mulai berdagang sejak tahun 2003. Cita rasa khas dan proses pembuatan yang masih mempertahankan cara tradisional menjadi daya tarik bagi para pembeli.

Serabi Notosuman mempunyai beraneka ragam rasa. Mulai dari rasa original, coklat, nangka, pisang. Serabi Notosuman ini masih banyak digemari dikalangkan anak muda atau Mahasiswa. Mereka biasanya membeli serabi sebagai oleh – oleh untuk dibawa pulang. “Banyak pembeli dari wisatawan luar kota atau mahasiswa  untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh,” ujar Ibu Sutarti.

Menurutnya, jumlah pembeli biasanya mengalami peningkatan saat akhir pekan, musim liburan, dan hari-hari tertentu. Meski begitu, penjual tetap menghadapi tantangan dalam menjaga kualitas serabi karena makanan tersebut memiliki daya tahan yang terbatas. “Serabi lebih enak kalau masih fresh. Jadi kami membuatnya sesuai kebutuhan agar kualitasnya tetap terjaga,” jelasnya.

Keberadaan Serabi Notosuman tidak hanya menjadi bagian dari perkembangan kuliner di Solo, tetapi juga menjadi salah satu bentuk pelestarian budaya kuliner tradisional. Hingga kini, serabi masih menjadi pilihan masyarakat yang ingin menikmati makanan khas dengan cita rasa tradisional.(*elisa)

Categories
budaya

Masjid Agung Surakarta, Warisan Sejarah dan Budaya Islam di Jantung Kota Solo

SURAKARTA – Masjid Agung Surakarta yang terletak di kawasan Alun-Alun Utara Keraton Kasunanan Surakarta merupakan salah satu bangunan bersejarah yang menjadi kebanggaan masyarakat Kota Solo. Berdiri sejak tahun 1763 pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwana III, masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi saksi perkembangan Islam, budaya, dan sejarah Kota Surakarta yang terus terjaga hingga saat ini.

Memiliki arsitektur khas Jawa dengan atap tajug bertumpang tiga, tiang-tiang kayu yang kokoh, serta berbagai ornamen bernuansa tradisional, Masjid Agung Surakarta mencerminkan perpaduan harmonis antara budaya Jawa dan nilai-nilai Islam. Keunikan bangunan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat maupun wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat warisan budaya Kota Solo.

Hingga kini, Masjid Agung Surakarta masih aktif digunakan sebagai pusat kegiatan keagamaan. Selain menjadi tempat pelaksanaan salat lima waktu dan salat Jumat, masjid ini juga rutin mengadakan pengajian, kajian keislaman, santunan sosial, serta berbagai kegiatan keagamaan lainnya yang melibatkan masyarakat dari berbagai kalangan.

Tidak hanya menjadi pusat ibadah, Masjid Agung Surakarta juga memiliki peran penting dalam pelestarian budaya. Setiap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, kawasan masjid menjadi bagian dari rangkaian tradisi Sekaten, sebuah tradisi peninggalan Keraton Surakarta yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Melalui tradisi tersebut, masyarakat dapat menyaksikan perpaduan antara syiar Islam dan budaya Jawa yang masih dilestarikan hingga sekarang.

Keberadaan Masjid Agung Surakarta juga menjadi destinasi wisata religi dan edukasi. Banyak pelajar, mahasiswa, wisatawan, hingga peneliti datang untuk mempelajari sejarah, arsitektur, serta nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Hal ini menjadikan masjid sebagai salah satu ikon wisata sejarah yang memiliki nilai spiritual sekaligus budaya.

Di tengah perkembangan Kota Solo yang semakin modern, Masjid Agung Surakarta tetap berdiri kokoh sebagai simbol keharmonisan antara sejarah, budaya, dan kehidupan beragama. Melalui pelestarian bangunan, tradisi, dan nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu, Masjid Agung Surakarta diharapkan terus menjadi warisan budaya yang membanggakan serta memberikan manfaat bagi masyarakat dan generasi mendatang.(*rifky)

Categories
budaya ekonomi

Muda dan Berbudaya, Selly Sukses Lestarikan Kain Lurik Beromset Rp15 Juta

KLATEN – Selly, seorang pengusaha muda berusia 25 tahun di Klaten, sukses melestarikan wastra tradisional kain lurik menjadi produk fashion modern yang diminati pasar. Melalui inovasi kreatif pada usaha turun-temurun ini, ia berhasil menjaga kelestarian budaya sekaligus mendapatkan omset hingga Rp15 juta per bulan.

Proses pembuatan lurik ini mengandalkan benang lawe putih produksi pabrik yang diolah sendiri melalui tahap pencucian, pewarnaan, hingga perendaman. Proses pewarnaan menggunakan dua metode, yaitu pewarna sintetis dan pewarna alami dari daun serta kayu, yang mana perbedaan bahan baku ini nantinya memengaruhi variasi harga jual kain. Produk akhir kemudian difokuskan pada busana siap pakai seperti outer dan kemeja kasual guna menjembatani estetika tradisional dengan selera generasi muda.

Selly menjelaskan bahwa keterlibatannya dalam industri kreatif ini merupakan langkah strategis untuk meneruskan estafet bisnis keluarga. Menurutnya, eksistensi wastra Nusantara sangat bergantung pada keberanian generasi muda dalam berinovasi tanpa menghilangkan identitas aslinya. “Alasan saya memilih usaha kain lurik ini karena merupakan usaha turun temurun dan saya yakin usaha ini akan berkembang pesat kedepannya,” ujarnya.

Keunikan usaha ini terletak pada kombinasi penggunaan alat tenun tradisional dengan strategi pemasaran digital yang adaptif. Pola manajemen ini melatih bisnis lokal agar tetap tangguh menghadapi dinamika industri kreatif global melalui pendekatan edukasi sejarah di balik setiap helai kain yang ditawarkan kepada konsumen.

Selly berencana mengoptimalkan aktivitas digitalnya dengan mengaktifkan fitur live streaming secara berkala di platform TikTok dan Instagram. Upaya ini dirancang untuk memperluas jangkauan pasar nasional, berinteraksi langsung dengan pelanggan, sekaligus mengenalkan filosofi kain lurik secara interaktif. Melalui pemanfaatan teknologi media tersebut, usaha kreatif lokal ini diharapkan mampu memperkokoh fundamental bisnisnya secara berkelanjutan.(*laela)

Categories
budaya

Pasar Triwindu Solo, Menyimpan Cerita di balik Barang Antik

SURAKARTA – Di tengah ramainya aktivitas perkotaan, Pasar Triwindu Solo tetap berdiri sebagai pusat barang antik legendaris. Bukan hanya tempat transaksi biasa, tetapi sebagai ruang pelestarian benda bersejarah yang memiliki nilai budaya. Terdapat banyak kios di sini memamerkan koleksi barang antik yang berniali klasik seperti, mata uang lama, patung lampu gantung, perabotan vintage, hingga trend baju kebaya yang kini diminati anak muda menjadi fashion. Pasar tradisional dengan dua lantaiu ini buka mulai jam 09.00 – 17.00 WIB.

Menariknya, pasar ini dikelola oleh para pedagang lokal, banyak diantara mereka yang telah beroperasi sejak kawasan ini masih menjadi toko bengkel kendaraan, sebelum secara resmi dibuka oleh pemerintah pada tahun 2011 sebagai pasar barang antik di Solo.

Salah satu yang menyaksikan perjalanan pasar ini adalah Pak Karjo, seorang pedagang yang menjajakan barang elektronik di Pasar Triwindu sejak tahun 1998, jauh sebelum di renovasi pasar menjadikannya gedung bertingkat seperti sekarang. Paka Karjo meneceritakan tentang berbagai barang antik bersejarah yang ada di pasar ini, seperti keris yang dipeoleh dari peninggalan zaman kolonial dan koleksi dari barang bekas rumah juragan batik kawasan Laweyan.

Adanya benda-benda bersejarah ini juga menarik perhatian generasi muda. Pak Karjo merasa senang melihat banyaknya pengujung muda yang ingin merasakan masa lalu di pasar ini. Namun, dia merasa gelisah ketika kehadiran mereka hanya untuk berfoto tanpa memahami makna sejarah dibalik benda benda-benda berharga tersebut. “Kadang anak sekaramg, etikanya kurangb dan tidak menghargai barang, padahal ada kata Sampahmu hartaku, mereka suka beli barang modern. Saya ingin bocah saiki bisa nguri-uri (melestarikan) barang lama, karena setiap barang antik menyimpan cerita dan jejak perjalanan masyarakat pada masanya.

Keberadaan pasar ini menjadi bukti bahwa warisan budaya tidak hanya tersimpan di museum, tetepi juga hidup di tengah masyarakat dan terus diwariskan dari generasi ke generasi. Dari pesan yang disampaikan Pak Karjo, generasi muda diharapkan datang ke Pasar Triwindu bukan hanya untuk mengikuti trend, melainkan juga untuk belajar menghargai, merawat, dan melestarikan warisan budaya bangsa yang tersimpan dalam setiap barang antik

Categories
budaya

Budaya Berlalu Lintas di Kota Solo Diuji, Kecelakaan Terjadi di Depan Gedung Wanita Manahan

SURAKARTA – Budaya tertib berlalu lintas kembali menjadi sorotan setelah terjadi kecelakaan lalu lintas di depan Gedung Wanita Manahan, Kota Solo, pada Rabu (sekitar pukul 14.00 WIB). Sebuah mobil yang melaju dari arah timur menabrak dua pengendara sepeda motor hingga keduanya terpental dan mengalami luka ringan.

Berdasarkan pantauan di lokasi, arus lalu lintas sempat melambat karena sejumlah warga dan pengguna jalan berhenti untuk melihat kejadian. Beberapa orang terlihat membantu korban sebelum mendapatkan penanganan lebih lanjut. Kendaraan yang terlibat juga tampak berhenti di sisi jalan sehingga menarik perhatian pengguna jalan yang melintas.

Salah seorang saksi mata, Rani, yang merupakan karyawan sebuah restoran di sekitar lokasi kejadian, mengaku melihat peristiwa tersebut saat sedang beraktivitas. “Saya sedang bekerja di dekat lokasi. Tiba-tiba terdengar suara benturan cukup keras. Setelah saya lihat keluar, ada dua pengendara motor yang sudah terpental ke jalan dan mobil berhenti di depan. Warga langsung berdatangan membantu korban,” ujar Rani.

Beruntung, kedua pengendara motor hanya mengalami luka ringan dan masih dalam kondisi sadar. Warga sekitar segera memberikan pertolongan pertama sambil mengatur arus kendaraan agar tidak menimbulkan kemacetan yang lebih panjang.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa budaya berlalu lintas bukan hanya soal mematuhi aturan, tetapi juga tentang kesadaran, kehati-hatian, dan saling menghormati sesama pengguna jalan. Kawasan Manahan yang dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas masyarakat Kota Solo memiliki mobilitas kendaraan yang tinggi, sehingga kewaspadaan setiap pengendara sangat diperlukan.

Budaya tertib berlalu lintas yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Solo perlu terus dijaga. Mematuhi batas kecepatan, menjaga jarak aman, serta meningkatkan konsentrasi saat berkendara merupakan langkah sederhana yang dapat mengurangi risiko kecelakaan dan menciptakan jalan yang lebih aman bagi semua pengguna.