SURAKARTA – Bahasa Jawa kromo merupakan salah satu bentuk bahasa yang menjadi bagian penting dari budaya masyarakat Jawa. Penggunaan bahasa krama tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan dan sopan santun kepada orang yang lebih tua atau orang yang dihormati. Hal tersebut disampaikan oleh Pak Yanto, seorang warga Solo yang saat ini berusia 59 tahun.
Menurut Pak Yanto, bahasa Jawa krama adalah tutur kata yang baik dan sopan yang digunakan ketika berbicara dengan orang yang lebih tua atau orang yang dihormati. “Bahasa Jawa kromo itu adalah tutur kata yang baik kepada orang yang lebih tua atau orang yang dihormati,” ujar Pak Yanto.
Ketika ditanya mengenai tingkatan bahasa Jawa, Pak Yanto menjelaskan bahwa bahasa Jawa memiliki banyak tingkatan dan ragam dalam penggunaannya. Salah satu contohnya adalah penggunaan kata “iki” dan “kuwi” yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Sementara itu, bahasa krama digunakan dalam situasi tertentu untuk menunjukkan rasa hormat kepada lawan bicara.
Menurut Pak Yanto, bahasa kromo umumnya digunakan oleh masyarakat Jawa, terutama ketika berkomunikasi dengan orang yang lebih tua. Penggunaan bahasa Jawa yang halus juga masih banyak ditemukan di lingkungan keraton. Namun, Pak Yanto mengakui bahwa dirinya tidak selalu menggunakan bahasa kromo dalam kehidupan sehari-hari. “Kalau saya sendiri sebenarnya masih kurang menggunakan bahasa Jawa halus. Saya menggunakannya pada saat-saat tertentu saja dan jarang menggunakan bahasa krama,” kata Pak Yanto.
Pak Yanto juga menyampaikan bahwa penggunaan bahasa Jawa kromo sebaiknya mulai dilakukan sejak sekarang dan tidak perlu ditunda-tunda. Menurutnya, bahasa Jawa merupakan bagian dari identitas dan budaya masyarakat Jawa yang perlu dilestarikan. “Secepatnya kita harus menggunakan bahasa Jawa kromo dan jangan ditunda-tunda karena itu memang bahasa kita. Ibaratnya, ketika kita salat, jangan menunda-nunda. Begitu juga dengan penggunaan bahasa Jawa,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa mempelajari bahasa Jawa krama penting dilakukan untuk menjaga tradisi dan budaya Jawa agar tidak hilang. Terlebih, masyarakat di Solo mayoritas merupakan orang Jawa dan masih banyak para sesepuh yang menggunakan bahasa Jawa halus dalam kehidupan sehari-hari. “Kita perlu mempelajari bahasa Jawa krama agar tradisi Jawa tidak hilang dan bahasa Jawa kromo yang halus tetap lestari. Selain itu, kita juga dapat mengikuti kebiasaan orang-orang zaman dahulu atau nenek moyang kita yang menggunakan bahasa Jawa dengan baik dan halus,” ungkap Pak Yanto.
Dalam menggunakan bahasa Jawa krama dengan benar, seseorang harus memperhatikan siapa lawan bicaranya. Ketika bertemu atau berbicara dengan orang yang lebih tua, penggunaan bahasa kromo yang halus diperlukan sebagai bentuk rasa hormat dan sopan santun. Sebagai contoh, seseorang dapat menggunakan ungkapan, “Sugeng enjing, Pak. Budhe tindak pundi?” atau “Budhe tindak pundi, Pak?” Penggunaan bahasa yang halus tersebut menunjukkan sikap menghormati orang yang lebih tua.
Dengan demikian, penggunaan bahasa Jawa krama perlu diterapkan dan dipelajari oleh generasi muda. Hal ini penting agar bahasa Jawa tetap hidup dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Selain sebagai alat komunikasi, bahasa Jawa kromo juga merupakan warisan budaya yang mencerminkan nilai kesopanan, penghormatan, dan tata krama masyarakat Jawa.(*rina)