Categories
Lifestyle

Penjual Kopi Keliling Ramaikan Suasana Pagi di Waduk Bade

Boyolali – Kehadiran penjual kopi keliling menggunakan sepeda motor menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat yang gemar menikmati suasana alam di kawasan Waduk Bade, Desa Bade, Kecamatan Klego, Kabupaten Boyolali. Waduk Bade dikenal sebagai tempat wisata alam sekaligus lokasi favorit untuk bersantai dan memancing.

Setiap pagi hingga menjelang siang, seorang penjual kopi berkeliling menggunakan sepeda motor yang telah dimodifikasi untuk membawa perlengkapan menyeduh kopi. Ia menawarkan berbagai minuman
seperti kopi hitam, kopi susu, dan minuman hangat lainnya kepada para pengunjung, pemancing, sertawarga yang sedang berolahraga di sekitar waduk.

Menurut penjual kopi tersebut, memilih berjualan secara keliling memudahkan dirinya menjangkau pelanggan tanpa harus membuka kedai tetap. saya berjualan kopi keliling ini karena lebih irit biaya modal sih mas, dari pada buka kedai bermodal banyak dan pastinya hanya di tempat. “Saya memilih berjualan pakai motor, lebih praktis juga dalam mencari pelanggan” Kata penjual. Selain lebih praktis, cara ini juga mengikuti kebutuhan masyarakat yang ingin menikmati kopi sambil bersantai di alam
terbuka.

Para pengunjung mengaku keberadaan penjual kopi keliling memberikan pengalaman berbeda. Mereka tidak perlu meninggalkan tempat memancing atau lokasi bersantai hanya untuk membeli minuman. Menikmati secangkir kopi dengan pemandangan Waduk Bade menjadi bagian dari gaya hidupsederhana yang kini semakin diminati.(*brian)

Categories
Lifestyle

Wedangan Pinggir Jalan Ruang Pelepas Penat Tengah Malam

Surakarta – Masyarakat lokal hingga kini makin menggandrungi wedangan sebagai destinasi akhir yang kerap dikunjungi. Melipir ke wedangan tradisional yang ada di pinggiran jalan sudah menjadi identitas gaya hidup masyarakat untuk merayakan kesederhanaan.

Mereka menemukan ruang santai yang murah meriah untuk melepas stres setelah seharian bergelut dengan rutinitas modern yang padat. Ada pengamen yang menghabiskan Rp5.000 rupiah membeli kopi serta beberapa gorengan yang cukup untuk mengganjal perut dan menghilangkan kantuk.

Pekerja seperti ojek online, biasanya mampir untuk beristirahat sejenak sembari menunggu orderan masuk. Tak lupa mengisi perut mereka agar tak keroncongan saat masih harus mengejar target orderan hingga tengah malam.  

Beberapa memutuskan untuk berhenti sejenak ke tenda wedangan pinggir jalan sebelum melanjutkan perjalanan pulang. Seperti Dani selaku driver online shoope food yang berhenti di wedangan yang ada di jalan Dr. Radjiman dekat pom bensin. “Saya biasanya datang setiap hari ke sini. Setelah selesai mengantar orderan makanan, saya santai-santai dulu ke sini sekitar satu jam atau dua jam sebelum akhirnya pulang ke rumah,” ujarnya pada kamis (23/07/2026) malam hari.

Adapun anak muda yang sengaja baru keluar mencari angin segar setelah seharian penuh mengerjakan pekerjaan sekolah. Hal ini menjadi simbol baru dalam menikmati waktu santai  di tengah gemerlap kota.

Aktivitas menyusuri kota di waktu malam, bukan lagi sekadar urusan mengisi perut yang lapar di kala sahur atau dini hari, melainkan sudah bergeser menjadi identitas gaya hidup masyarakat Solo untuk mengusir penat dan letih yang menumpuk di pundak mereka. (*ridho)

Categories
Lifestyle

Lokananta Block Kian Jadi Destinasi Favorit Anak Muda di Solo

SURAKARTA – Lokananta Block semakin dikenal sebagai salah satu destinasi favorit anak muda di Kota Solo. Kawasan yang memadukan nilai sejarah dengan ruang kreatif ini menjadi tempat berkumpul untuk menikmati musik, kuliner, pameran seni, hingga berbagai kegiatan komunitas.

Pada akhir pekan, Lokananta Block dipadati pengunjung dari berbagai kalangan, terutama generasi muda yang ingin menghabiskan waktu bersama teman maupun keluarga. Suasana yang nyaman serta beragam aktivitas menjadikan kawasan ini memiliki daya tarik tersendiri dibandingkan tempat nongkrong lainnya di Solo.

Selain menawarkan pilihan kuliner dari pelaku UMKM, Lokananta Block juga rutin menghadirkan pertunjukan musik, pameran, diskusi kreatif, dan kegiatan komunitas. Beragam acara tersebut membuat pengunjung tidak hanya datang untuk bersantai, tetapi juga menikmati pengalaman yang berbeda.

Salah satu pengunjung, Dimas (22), mengaku memilih Lokananta Block karena suasananya yang unik. “Tempatnya nyaman, banyak kegiatan yang bisa diikuti, dan cocok untuk berkumpul bersama teman. Setiap datang ke sini rasanya selalu ada hal baru,” ujarnya.

Sementara itu, Pak Handoko pemilik salah satu tenant kuliner mengatakan bahwa ramainya pengunjung, terutama saat akhir pekan, memberikan dampak positif bagi pelaku UMKM yang berjualan di kawasan tersebut.

“Kalau akhir pekan pengunjung jauh lebih ramai. Ini tentu membantu meningkatkan penjualan sekaligus memperkenalkan produk kami kepada masyarakat,” kata Pak Handoko.

Keberadaan Lokananta Block dinilai tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga wadah bagi komunitas kreatif, musisi, dan pelaku UMKM untuk berkembang. Dengan konsep yang memadukan sejarah, seni, dan gaya hidup modern, kawasan ini terus menjadi salah satu ikon destinasi kreatif di Kota Solo.(*araka)

Categories
Lifestyle

Memotret Batik di Lapangan Padel, Cara Saya Mengabadikan Perpaduan Tren Lifestyle dan Budaya Nusantara

Karanganyar – Sebagai mahasiswa Program Studi Produksi Media Politeknik Indonusa Surakarta, saya, Dafa Nurizqan Hidayat, mendapatkan kesempatan mengerjakan proyek fotografi untuk mata kuliah Photography. Pada Juli 2026, saya memilih melakukan sesi pemotretan di Verdant Padel Colomadu, sebuah fasilitas olahraga padel di kawasan Colomadu, Kabupaten Karanganyar. Saya mengangkat konsep yang memadukan olahraga padel yang sedang berkembang di kalangan anak muda dengan busana batik sebagai identitas budaya Indonesia. Melalui karya ini, saya ingin menunjukkan bahwa tren olahraga modern dapat berjalan berdampingan dengan nilai-nilai budaya Nusantara.

Saya memilih Verdant Padel Colomadu sebagai lokasi pemotretan karena lapangan ini memiliki konsep modern dengan pencahayaan yang mendukung proses fotografi. Suasana lapangan memberikan kesan dinamis sehingga sesuai dengan tema yang ingin saya angkat, yaitu perpaduan olahraga padel dengan busana batik sebagai identitas budaya Indonesia.

Model yang saya potret, Oca, mengenakan busana bermotif batik sambil memperagakan berbagai gerakan dasar olahraga padel, seperti melakukan servis, memegang raket, hingga bersiap menerima bola. Saya mengarahkan setiap pose agar unsur olahraga tetap terlihat natural tanpa menghilangkan nilai estetika batik sebagai fokus utama dalam karya fotografi.

Menurut Oca, konsep pemotretan tersebut memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan sesi foto yang pernah ia jalani sebelumnya. “Awalnya saya mengira batik hanya cocok dipakai dalam acara formal. Setelah menjalani sesi pemotretan ini, ternyata batik juga bisa dipadukan dengan olahraga seperti padel dan tetap terlihat modern serta menarik,” ujarnya.

Sebagai fotografer, saya melihat perpaduan antara tren olahraga padel dan busana batik mampu menghasilkan visual yang unik sekaligus menyampaikan pesan bahwa budaya Indonesia dapat mengikuti perkembangan lifestyle anak muda. Melalui proyek fotografi ini, saya ingin menunjukkan bahwa batik tidak hanya menjadi simbol warisan budaya, tetapi juga dapat dikenakan dalam berbagai aktivitas modern tanpa kehilangan identitasnya.

Bagi saya, pengalaman ini bukan hanya menjadi tugas perkuliahan, melainkan juga media untuk mengeksplorasi kreativitas sebagai calon praktisi media. Saya berharap konsep yang memadukan olahraga padel dengan batik dapat menjadi inspirasi bahwa budaya Indonesia mampu beradaptasi dengan tren lifestyle masa kini tanpa kehilangan jati dirinya. Melalui lensa kamera, saya belajar bahwa sebuah foto dapat menjadi sarana untuk menceritakan identitas, kreativitas, dan kebanggaan terhadap budaya lokal.(*nurizqan)

Categories
Lifestyle

Kopi Kenangan Dr. Radjiman Sediakan Fasilitas Lengkap Untuk Mahasiswa dan WFH, Buka 24 Jam di Laweyan

SURAKARTA – Kopi Kenangan Dr. Radjiman menjadi salah satu coffee shop di Laweyan yang nyaman untuk mahasiswa dan pekerja WFH mengerjakan tugas. Berlokasi di Jl. Dr. Rajiman No. 476B, Bumi, Kec. Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah, coffee shop ini terletak di lokasi strategis Laweyan. Desain interiornya mengusung konsep modern minimalis dengan pencahayaan hangat, sehingga pengunjung betah berlama-lama sambil mengerjakan pekerjaan atau tugas kuliah. 

Kelebihan utama tempat ini ada di kenyamanan dan fasilitasnya. Tersedia tempat duduk sofa yang empuk buat duduk berjam-jam, ruangan ber-AC, parkiran luas, mushola, dan free wifi. Untuk menu, di sini menjual roti, kopi, hingga non-coffee dengan harga menu reguler mulai Rp18.000 hingga Rp30.000. Suasananya tenang dan cocok buat meeting online. “Hampir setiap ada tugas saya ngerjainnya di Kopken, bikin semangat ngerjainnya dan minumnya enak-enak,” ujar mahasiswa langganan Kopi Kenangan.

Yang paling menarik dari cafe ini, Kopi Kenangan Dr. Radjiman buka 24 jam. Jadi mau begadang ngerjain deadline jam 2 pagi atau meeting pagi-pagi tetap aman. Cocok banget buat mahasiswa, freelancer, dan siapa aja yang butuh tempat produktif kapan aja.(*cesya)

Categories
Lifestyle

Mencoba Nail Art di Koridor Gatsu Solo: Saat Gaya Menjadi Cara Anak Muda Mengekspresikan Diri

Surakarta-Pada Sabtu, 27 Juni 2026, saya mendatangi stan nail art yang berada di kawasan Koridor Gatsu Solo untuk merasakan langsung pengalaman yang sedang digemari anak-anak muda. Di balik meja kecil yang dipenuhi ratusan pilihan warna kuteks, seorang nail artist dengan ramah menyambut setiap pelanggan. Ia menjelaskan bahwa nail art kini bukan lagi sekadar tren kecantikan perempuan, melainkan telah menjadi bagian dari gaya hidup yang dapat dinikmati siapa saja.

“Nail art adalah media untuk mengekspresikan diri. Tidak ada batasan siapa yang boleh memakainya, yang terpenting adalah rasa percaya diri dan kenyamanan pemakainya,” ujar nail artist saat proses pengerjaan.

Stan nail art tersebut beroperasi setiap akhir pekan mulai pukul 17.00 hingga 23.00 WIB. Sebelum proses pengerjaan dimulai, pelanggan disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu mengenai desain yang diinginkan. Hal ini bertujuan agar terdapat kesepakatan antara pelanggan dan nail artist mengenai tingkat kesulitan desain, waktu pengerjaan, serta biaya yang akan dikenakan.

Sebagai pemula yang baru pertama kali mencoba nail art, saya memilih desain sederhana bernuansa merah dengan sentuhan karakter kecil. Untuk desain tersebut, saya mengeluarkan biaya sekitar Rp150.000. Namun, nail artist menjelaskan bahwa harga tidak bersifat tetap, melainkan disesuaikan dengan tingkat kerumitan desain yang diminta pelanggan. Semakin rumit detail dan teknik pengerjaannya, semakin tinggi biaya yang harus dibayarkan.

Pengalaman ini memberikan sudut pandang baru bagi saya mengenai perkembangan lifestyle anak muda di Kota Solo. Nail art bukan sekadar mengikuti tren, tetapi telah menjadi salah satu bentuk ekspresi diri yang tumbuh bersama ruang kreatif seperti Koridor Gatsu. Dari sekadar datang untuk melakukan observasi sebagai layaknya seorang wartawan, saya justru pulang dengan pengalaman baru dan pemahaman bahwa sebuah karya kecil di ujung jari ternyata mampu menceritakan karakter dan kepercayaan diri seseorang.

Categories
Lifestyle

Bubur Jang Kie : Bubur Estetik di Solo, Cocok Buat Sarapan Hingga Makan Malam Bareng Keluarga

SURAKARTA – Bubur Jang kie dibuka di Solo sejak 31 Agustus 2025. Rumah makan ini buka setiap hari pukul 07.00 – 21.00 WIB. Mengusung konsep comfort food peranakan dan oriental dengan jaminan No Pork, No Lard, tempat ini menawarkan bubur dengan cita rasa gurih khas, padat, dan lembut yang mirip Bubur Chinese/Singapura. Menu andalannya Bubur Jangkie  dengan topping melimpah dan rengginang spesial. Selain itu ada dimsum Lumpia Kulit Tahu Steam dan minuman best seller Teh Jangkie berbahan teh dan sirup cocopandan. Yang berlokasi di Jl. Dr. Cipto Mangunkusumo No. 19, Sriwedari, Laweyan, Kota Surakarta, tepatnya area selatan Solo Paragon Mall bekas Mie Gacoan.

Dengan harga mulai Rp13.000, pengunjung cukup menyiapkan budget Rp25.000 – Rp50.000 per orang untuk menikmati bubur, dimsum kukus maupun goreng, dessert dan minuman. Ada kabar baik untuk pelajar dan mahasiswa, tersedia promo khusus dengan menunjukkan kartu pelajar/mahasiswa. Cukup Rp21.000 – Rp27.000 sudah termasuk paket makan dan minum. Harga belum termasuk pajak 10%. Promo ini berlaku Senin hingga Jumat. Menurut pegawai, tempat ini selalu ramai pengunjung terutama saat Minggu pagi. Daya tarik lain ada pada fasilitas yang lengkap dan ramah keluarga. Tersedia area parkir luas, ruang indoor ber-AC, area outdoor/smoking area, mushola, hingga baby chair. Terdapat juga VIP room khusus untuk keluarga yang cukup menampung ± 8 hingga 15 orang. Keunikan lain, Bubur Jangkie juga menyediakan mainan edukatif untuk anak seperti membuat tas anyam, mewarnai, dan melukis agar anak-anak lebih kreatif saat menunggu pesanan.

Dikenal dengan tempat yang estetik dan harga terjangkau, Bubur Jangkie berhasil menarik berbagai kalangan. Cabang Solo ini merupakan salah satu dari beberapa gerai yang sudah ada, termasuk di Malang. Perpaduan menu lezat, suasana nyaman, dan fasilitas keluarga membuat Bubur Jangkie cocok dijadikan pilihan untuk sarapan hingga makan malam bersama keluarga.

Categories
Lifestyle

Menjelajahi Kios Buku Yang Tetap Hidup di Era digitalisasi

Surakarta, 04 Juli 2026 – Kawasan belakang Sriwedari (terkenal dengan sebutan Busri atau Mburi Sriwedari) kini menjadi salah satu hidden gem tersembunyi bagi pecinta buku ataupun kolektor buku yang ingin berburu literasi langka yang sudah jarang ditemukan di toko buku modern.

Di belakang Taman Sriwedari atau lebih tepatnya di jalan Kebangkitan Nasional sudah terdapat kios-kios buku yang berjejeran di sepanjang jalan. Di sini, pengunjung bisa menemukan ragam bacaan mulai dari buku pelajaran, komik lawas, ataupun novel yang sudah jarang ditemukan di toko modern. Harganya yang terjangkau dan bisa ditawar menjadikan tempat ini cocok untuk para pelajar maupun mahasiswa karena harga yang dibanderol ramah di kantong.

“Ketika awal pembelajaran baru, banyak pelajar yang datang mencari modul pembelajaran. Karena saya belinya borongan baik dari penyuplai buku maupun orang-orang yang ingin menjual buku lamanya, jadi harga yang dijual juga termasuk lebih terjangkau,” kata Ibu Davina selaku penjual buku.

Ibu Davina juga menambahkan dulunya terdapat sekitar 90 kios yang ada hingga akhirnya berkurang separuh lebih. Hal yang melatarbelakanginya adalah maraknya e-book maupun online shop yang membuat orang-orang lebih memilih membeli secara daring daripada datang secara langsung.

Meski sempat kehilangan minat dan daya tarik, tempat ini tetap bertahan karena terdapat beberapa kuliner yang mulai tersedia dan kedai kopi kekinian yang sudah banyak buka di sela-sela kios buku. Hal ini lantaran beberapa unit kios yang kosong atau tidak aktif mulai dialihfungsikan   menjadi kedai kopi slowbar mini, angkringan modern, dan tempat makan.

Kini tempat ini mulai bangkit kembali menjadi tempat untuk bersantai ataupun beristirahat dari aktivitas harian. Hal ini membuat pengunjung betah untuk berlama-lama membaca buku sembari menikmati kuliner yang ada di sekitar. Untuk jam operasional sendiri biasanya buka dari sekitar pukul 08.00 – 18.00 WIB. Bahkan, beberapa kios ada yang masih buka sampai malam hari. Dengan adanya peristiwa ini diharapkan kios-kios buku semakin ramai dikunjungi semua orang, khususnya dikalangan para remaja sehingga mampu menciptakan budaya literasi.

Categories
Lifestyle

Boyband Campur Sari “Format Music”, Berawal dari Hobi hingga Menghibur Masyarakat

SURAKARTA, 3 Juli 2026 Boy Band Campursari Format Music terus memperkuat eksistensinya di Surakarta dengan tampil minimal dua kali setiap pekan di berbagai panggung hiburan. Grup beranggotakan enam personel yang berdiri sejak 2022 ini mengusung lagu-lagu populer dan campursari berbahasa Jawa, seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap musik campursari modern.

Menurut Mas Yuli, konsistensi tampil menjadi kunci perkembangan grup. “Respons positif dari masyarakat menjadi motivasi kami untuk terus meningkatkan kualitas musikalitas dan performa panggung,” ujarnya. Apresiasi penonton saat tampil di pasar malam menjadi salah satu pencapaian berkesan bagi Format Music, yang kini terus memperluas jangkauan penampilan agar semakin dikenal sebagai grup campursari muda asal Solo Raya. Bagi Format Music, setiap panggung memiliki cerita tersendiri. Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika mereka tampil di sebuah pasar malam. Saat itu, antusiasme masyarakat di luar dugaan. Penonton tidak hanya menikmati pertunjukan, tetapi juga ikut bernyanyi dan berjoget bersama sepanjang acara berlangsung.

Ia mas yuli, menjelaskan bahwa respons positif dari masyarakat menjadi motivasi terbesar bagi seluruh personel untuk terus meningkatkan kualitas penampilan. Tidak hanya dari sisi musikalitas, mereka juga terus memperhatikan konsep pertunjukan agar penonton mendapatkan hiburan yang menarik setiap kali Format Music tampil.

Di tengah semakin tingginya minat masyarakat terhadap musik campursari modern, kehadiran Boyband Campursari Format Music menjadi bukti bahwa budaya tradisional mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Berbekal semangat, kekompakan, dan kecintaan terhadap musik, grup asal Solo Raya ini terus melangkah untuk memberikan hiburan berkualitas sekaligus menjaga agar musik campursari tetap hidup dan dicintai lintas generasi.

Perjalanan mereka mungkin masih panjang, namun Format Music telah membuktikan bahwa sebuah hobi yang dijalani dengan kesungguhan dapat berkembang menjadi karya yang memberi manfaat bagi banyak orang. Melalui setiap penampilan di atas panggung, mereka tidak hanya menyuguhkan hiburan, tetapi juga membawa pesan bahwa budaya lokal tetap memiliki tempat di hati masyarakat, terutama ketika dikemas secara kreatif dan mengikuti perkembangan zaman.

Categories
Lifestyle

Anak Muda Tetap Setia Nongkrong di Angkringan – Tetap Sederhana, Tetap Istimewa

(Solo)– Menjamurnya coffee shop di berbagai daerah di kota solo tidak serta-merta menggeser keberadaan angkringan sebagai tempat favorit anak muda untuk berkumpul. Di tengah tren gaya hidup modern yang identik dengan kafe berkonsep estetik, dan dengan datangnya budaya kalcer,angkringan justru tetap menjadi pilihan karena menawarkan suasana yang sederhana, akrab, dan ramah di kantong.

Fenomena ini terlihat dari ramainya sejumlah angkringan pada malam hari yang dipenuhi pelajar, mahasiswa, hingga pekerja muda. Bagi mereka, angkringan bukan hanya tempat makan, tetapi juga ruang untuk berbincang, berdiskusi, hingga melepas penat setelah menjalani aktivitas sehari-hari.

Selain harga makanan dan minuman yang jauh lebih terjangkau dibanding coffee shop, suasana yang santai tanpa tuntutan gaya hidup tertentu menjadi alasan utama angkringan tetap diminati. Salah satu pengunjung Alvin, yang berasal dari klaten dan bekerja di kota solo,” ya kalau di coffeshop itu rata-rata menurut saya pada adu gengsi dan outfit mas,dan kesannya kaya terlalu memaksakan untuk bergaya hidup mewah” ,tuturnya. Di sisi lain, coffee shop memang menawarkan fasilitas seperti internet cepat, interior modern, dan ruang kerja yang nyaman sehingga menjadi pilihan bagi sebagian anak muda untuk belajar maupun bekerja. Namun, bagi banyak kalangan, angkringan memiliki nilai sosial dan budaya yang sulit tergantikan.