Surakarta-Pada Sabtu, 27 Juni 2026, saya mendatangi stan nail art yang berada di kawasan Koridor Gatsu Solo untuk merasakan langsung pengalaman yang sedang digemari anak-anak muda. Di balik meja kecil yang dipenuhi ratusan pilihan warna kuteks, seorang nail artist dengan ramah menyambut setiap pelanggan. Ia menjelaskan bahwa nail art kini bukan lagi sekadar tren kecantikan perempuan, melainkan telah menjadi bagian dari gaya hidup yang dapat dinikmati siapa saja.
“Nail art adalah media untuk mengekspresikan diri. Tidak ada batasan siapa yang boleh memakainya, yang terpenting adalah rasa percaya diri dan kenyamanan pemakainya,” ujar nail artist saat proses pengerjaan.
Stan nail art tersebut beroperasi setiap akhir pekan mulai pukul 17.00 hingga 23.00 WIB. Sebelum proses pengerjaan dimulai, pelanggan disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu mengenai desain yang diinginkan. Hal ini bertujuan agar terdapat kesepakatan antara pelanggan dan nail artist mengenai tingkat kesulitan desain, waktu pengerjaan, serta biaya yang akan dikenakan.
Sebagai pemula yang baru pertama kali mencoba nail art, saya memilih desain sederhana bernuansa merah dengan sentuhan karakter kecil. Untuk desain tersebut, saya mengeluarkan biaya sekitar Rp150.000. Namun, nail artist menjelaskan bahwa harga tidak bersifat tetap, melainkan disesuaikan dengan tingkat kerumitan desain yang diminta pelanggan. Semakin rumit detail dan teknik pengerjaannya, semakin tinggi biaya yang harus dibayarkan.
Pengalaman ini memberikan sudut pandang baru bagi saya mengenai perkembangan lifestyle anak muda di Kota Solo. Nail art bukan sekadar mengikuti tren, tetapi telah menjadi salah satu bentuk ekspresi diri yang tumbuh bersama ruang kreatif seperti Koridor Gatsu. Dari sekadar datang untuk melakukan observasi sebagai layaknya seorang wartawan, saya justru pulang dengan pengalaman baru dan pemahaman bahwa sebuah karya kecil di ujung jari ternyata mampu menceritakan karakter dan kepercayaan diri seseorang.