

SURAKARTA – Di tengah ramainya aktivitas perkotaan, Pasar Triwindu Solo tetap berdiri sebagai pusat barang antik legendaris. Bukan hanya tempat transaksi biasa, tetapi sebagai ruang pelestarian benda bersejarah yang memiliki nilai budaya. Terdapat banyak kios di sini memamerkan koleksi barang antik yang berniali klasik seperti, mata uang lama, patung lampu gantung, perabotan vintage, hingga trend baju kebaya yang kini diminati anak muda menjadi fashion. Pasar tradisional dengan dua lantaiu ini buka mulai jam 09.00 – 17.00 WIB.
Menariknya, pasar ini dikelola oleh para pedagang lokal, banyak diantara mereka yang telah beroperasi sejak kawasan ini masih menjadi toko bengkel kendaraan, sebelum secara resmi dibuka oleh pemerintah pada tahun 2011 sebagai pasar barang antik di Solo.
Salah satu yang menyaksikan perjalanan pasar ini adalah Pak Karjo, seorang pedagang yang menjajakan barang elektronik di Pasar Triwindu sejak tahun 1998, jauh sebelum di renovasi pasar menjadikannya gedung bertingkat seperti sekarang. Paka Karjo meneceritakan tentang berbagai barang antik bersejarah yang ada di pasar ini, seperti keris yang dipeoleh dari peninggalan zaman kolonial dan koleksi dari barang bekas rumah juragan batik kawasan Laweyan.
Adanya benda-benda bersejarah ini juga menarik perhatian generasi muda. Pak Karjo merasa senang melihat banyaknya pengujung muda yang ingin merasakan masa lalu di pasar ini. Namun, dia merasa gelisah ketika kehadiran mereka hanya untuk berfoto tanpa memahami makna sejarah dibalik benda benda-benda berharga tersebut. “Kadang anak sekaramg, etikanya kurangb dan tidak menghargai barang, padahal ada kata Sampahmu hartaku, mereka suka beli barang modern. Saya ingin bocah saiki bisa nguri-uri (melestarikan) barang lama, karena setiap barang antik menyimpan cerita dan jejak perjalanan masyarakat pada masanya.
Keberadaan pasar ini menjadi bukti bahwa warisan budaya tidak hanya tersimpan di museum, tetepi juga hidup di tengah masyarakat dan terus diwariskan dari generasi ke generasi. Dari pesan yang disampaikan Pak Karjo, generasi muda diharapkan datang ke Pasar Triwindu bukan hanya untuk mengikuti trend, melainkan juga untuk belajar menghargai, merawat, dan melestarikan warisan budaya bangsa yang tersimpan dalam setiap barang antik